Label "Anak Bangsa" dan Premis Alienatif.

Gambar mungkin berisi: teks

Salah satu faktor terbesar mengapa produk-produk yang dilabeli "karya anak bangsa" gagal ialah fakta bahwa mereka cenderung ditargetkan pada demografi spesifik dan mengalienasi demografi yang lain. Konteks "demografi" di sini luas; apakah produk tersebut mengalienasi mereka yang tidak berada dalam identitas nasional sama? Apakah produk tersebut mengalienasi orang yang melihat dunia dari perspektif tertentu? Apakah produk tersebut mengalienasi mereka yang memakai produk yang berbeda? Dalam skala kecil alienasi pasti terjadi, seperti Weibo mengalienasi postingan anti pemerintah atau Facebook mengalienasi kaum radikal sayap kanan. Namun apa jadinya bila alienasinya begitu besar sehingga membuat pengguna produk tersebut terjebak dalam sangkar burung?

Jawabanya ialah produk tersebut mustahil bersaing secara internasional.

Itulah ironi terbesar bangsa kita; ingin bersaing secara internasional namun tidak berani merangkul semua kalangan secara general. Jangankan orang Malaysia, bahkan ada produk berlabel "karya anak bangsa" yang dipasarkan secara jawasentris sehingga orang Kalimantan dan orang Sumatera merasa teralienasi saat memakai produk tersebut. Kita tidak membuat produk yang bersifat Inovatif dan inklusif, melainkan malah bersifat SUBTITUTIF dan RESTRIKTIF.

Merasa "membentengi" diri dari westernisasi; mengganti Superman dengan Sutarmin, mengganti Mcdonald dengan Madigol, mengganti Deviantart dengan Dongdinyot, mengganti Alphard dengan Achong - semuanya memaksa kita untuk mengganti" sebagai kata kunci, beralih dari "produk westernisasi" ke "padanan cinta tanah air" tapi apakah padanan tersebut inovatif atau sekali lagi hanya subtitusi belaka? Buat apa memakai produk mereka kalau cuma "rasa lokal" saja tanpa memberi wadah bagi kreator untuk berekspresi secara mandiri?

Jawabanya: Menggemukan orang malas.

Kreatifitas adalah musuh pemalas. Saat Para Pemalas memperoleh pangkat mereka akan berusaha untuk memperoleh uang sebanyak mungkin dengan usaha sekerdil mungkin, biar orang bawah yang capai bekerja mereka cuma perlu mengulang-ulang lagu lama, mereka cuma perlu menggunakan formula ignoran, seksis, klasis, ultramoralis dan politik identitas yang biasa mereka tayangkan di sinetorn-sinetron. Semua produk orang-orang malas ini tak ubahnya sinetron kejar tayang, subtitusi tanpa isi - dan merekalah sebenar-benarnya racun bagi Indonesia - merekalah musuh kita.

Orang malas bukanlah orang yang menganggur, secara empiris saya tahu sendiri penganggur ingin memperoleh kerja, atau sebenarnya sudah bekerja tapi dianggap menganggur karena pekerjaanya dialienasi dan tidak diwadahi. Orang yang malas ialah mereka yang punya kekuatan untuk menciptakan lapangan pekerjaan, bahkan punya kekuatan untuk memperkuat relasi Indnesia dengan masyarakat Internasional, namun malah memilih untuk menciptakan konflik horizontal, membuat kita semakin teralienasi dari dari dunia internasional, dan membuat standar kualitas kita semakin menurun sehingga kita mau saja diberi makan kotoran babi. Saatnya kita perkuat relasi kita baik secara nasional maupun internasional, saatnya kita tingkatkan standar minimum kita terhadap produk, saatnya kita Berbhinekka Tunggal Ika secara mutlak; merangkul tidak hanya keberagamaan antarsuku domestik, namun keberagaman seluruh manusia di seluruh dunia.

Disalin dari: Facebook