Tragedi Di Pesta Malam Hari Chapter 2
Beberapa hari kemudian....
"Apakah keretanya sudah siap, Samuel?" Tanya Nathan sambil memakai jas hitamnya dan berjalan menuju sepasang pintu besar.
"Tentu saja, tuan." Jawab Samuel sambil membungkukkan badannya tanda hormat.
Ketika Samuel membuka pintu tersebut, cahaya lampu menebus diantara kedua pintu. Di baliknya, terlihat sebuah kereta kuda dan kusirnya sedang menunggu di bawah gelapnya langit malam itu.
"Mari kita pergi." Kata Nathan sambil berjalan menuju kereta kuda tersebut.
"Baik tuan." Jawab Samuel sambil menutup pintu dibaliknya.
krek....
Terdengar bunyi pintu tertutup.
klik...klik....
Suara kunci pintu berputar ketika Samuel mengunci pintu tersebut.
"Silahkan masuk, tuan." Kata sang kusir sambil membukakan pintu kereta untuk Nathan.
"Terima kasih." Jawab Nathan sambil tersenyum kepada sang kusir.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam, sang kusir menutup pintu kereta itu lalu berjalan ke tempat kusir.
"Sudah siap tuan?" Tanya sang kusir sekali lagi untuk memastikan keadaan penumpangnya.
"Ya. Silahkan jalan." Jawab Nathan sambil mengecek barang barangnya.
Dengan sigapnya, sang kusir memacu kudanya melewati jalan gelap yang dihiasi lampu lampu jalan disisinya. Pejalan kaki, kereta lain, keramaian pada malam itu tidak menghambatnya dalam memacu kudanya dan mengantar penumpangnya ke tempat tujuan mereka.
kik....
Suara kaki kuda menahan laju kereta tersebut.
"Kita sudah sampai di tempat tujuan, tuan." Kata sang kusir sambil turun dari kursinya dan berjalan menuju kereta dibelakangnya.
"Selamat datang di villa pribadi Tuan Ong." Kata sang kusir sambil membukakan pintu kereta untuk Nathan dan Samuel.
"Terima kasih atas kerja anda." Jawab Nathan sambil memberikan beberapa keping uang kepada sang kusir.
"Saya senang anda puas dengan kerja saya." Kata sang kusir sambil mengambil uang tersebut.
"Kalau begitu, saya pergi dahulu." Lanjutnya sambil mengangkat topinya.
Setelah berpamitan, sang kusir kembali ke kursinya sedangkan Nathan dan Samuel berbalik arah menghadap villa tersebut.
Villa tersebut cukup besar untuk menampung pesta yang tidak terlalu mewah. Arsitekturnya di desain dengan gaya klasik sesuai dengan bahan material pembuatan villa tersebut, kayu. Hal lain yang mencolok adalah villa tersebut tidak menempel pada tanah, tetapi sedikit melayang diatas tanah dengan tumpuan kayu di bawahnya seperti rumah panggung. Di depan pintunya terdapat sebuah teras kecil yang cukup bagi beberapa orang untuk berkumpul dan bersantai disana. Untuk memperkokoh struktur villa tersebut, di sudut kanan dan kiri dari teras tersebut juga telah diberikan sebuah tiang kayu yang menjulang dari lantai teras hingga atap villa tersebut. Ditengah teras tersebut, berdiri sebuah pintu kayu dengan desain sederhana. Jika dilihat dari villa tersebut, orang lain mungkin akan mengira bahwa pemiliknya adalah orang yang sederhana. Tetapi, Nathan dan Samuel mengenal pemiliknya dengan cukup dekat.
Di depan mereka, terlihat dua orang yang sama-sama berkemeja putih dengan jas dan dasi hitam sedang berdiri didepan pintu villa tersebut. Dari penampilannya, sepertinya mereka telah menunggu kedatangan Nathan dan Samuel. Melihat kedatangan Nathan dan Samuel, salah satu dari dua orang tersebut datang mendekati Nathan dan Samuel.
"Selamat malam Tuan Nathan, Tuan Ong telah menunggu anda di ballroom utama." Sapa orang tersebut sambil berjalan mendekati mereka.
“Selamat malam Niki. Ini malam yang indah bukan?” Balas Nathan.
“Tentu saja tuan. Malam yang indah untuk mengadakan sebuah pesta seperti ini.” Jawab orang yang dipanggil Niki tersebut.
“Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam.” Lanjut Niki.
“Tentu saja. Silahkan pandu jalannya, Niki.”
“Baik, Tuan Nathan”
Niki berputar, lalu berjalan menuju sebuah pintu cukup besar yang berada di depan mereka. Dia lalu membuka pintu tersebut, dan kembali berputar menghadap Nathan dan Samuel.
“Silahkan masuk, tuan.”
“Terima kasih, Niki.” Jawab Nathan sambil berjalan menuju pintu yang telah dibuka oleh Niki.
“Kalau begitu, kami masuk dulu yah, Albert.” Nathan memutar kepalanya menghadap penjaga yang satu lagi.
“Tentu saja tuan. Selamat menikmati pestanya.” Balas laki-laki yang tadi dipanggil Albert itu.
Setelah Nathan dan Samuel melewati pintu tersebut, Niki menutup kembali pintunya dengan perlahan.
Krek....
"Apakah keretanya sudah siap, Samuel?" Tanya Nathan sambil memakai jas hitamnya dan berjalan menuju sepasang pintu besar.
"Tentu saja, tuan." Jawab Samuel sambil membungkukkan badannya tanda hormat.
Ketika Samuel membuka pintu tersebut, cahaya lampu menebus diantara kedua pintu. Di baliknya, terlihat sebuah kereta kuda dan kusirnya sedang menunggu di bawah gelapnya langit malam itu.
"Mari kita pergi." Kata Nathan sambil berjalan menuju kereta kuda tersebut.
"Baik tuan." Jawab Samuel sambil menutup pintu dibaliknya.
krek....
Terdengar bunyi pintu tertutup.
klik...klik....
Suara kunci pintu berputar ketika Samuel mengunci pintu tersebut.
"Silahkan masuk, tuan." Kata sang kusir sambil membukakan pintu kereta untuk Nathan.
"Terima kasih." Jawab Nathan sambil tersenyum kepada sang kusir.
Setelah mereka berdua masuk ke dalam, sang kusir menutup pintu kereta itu lalu berjalan ke tempat kusir.
"Sudah siap tuan?" Tanya sang kusir sekali lagi untuk memastikan keadaan penumpangnya.
"Ya. Silahkan jalan." Jawab Nathan sambil mengecek barang barangnya.
Dengan sigapnya, sang kusir memacu kudanya melewati jalan gelap yang dihiasi lampu lampu jalan disisinya. Pejalan kaki, kereta lain, keramaian pada malam itu tidak menghambatnya dalam memacu kudanya dan mengantar penumpangnya ke tempat tujuan mereka.
kik....
Suara kaki kuda menahan laju kereta tersebut.
"Kita sudah sampai di tempat tujuan, tuan." Kata sang kusir sambil turun dari kursinya dan berjalan menuju kereta dibelakangnya.
"Selamat datang di villa pribadi Tuan Ong." Kata sang kusir sambil membukakan pintu kereta untuk Nathan dan Samuel.
"Terima kasih atas kerja anda." Jawab Nathan sambil memberikan beberapa keping uang kepada sang kusir.
"Saya senang anda puas dengan kerja saya." Kata sang kusir sambil mengambil uang tersebut.
"Kalau begitu, saya pergi dahulu." Lanjutnya sambil mengangkat topinya.
Setelah berpamitan, sang kusir kembali ke kursinya sedangkan Nathan dan Samuel berbalik arah menghadap villa tersebut.
Villa tersebut cukup besar untuk menampung pesta yang tidak terlalu mewah. Arsitekturnya di desain dengan gaya klasik sesuai dengan bahan material pembuatan villa tersebut, kayu. Hal lain yang mencolok adalah villa tersebut tidak menempel pada tanah, tetapi sedikit melayang diatas tanah dengan tumpuan kayu di bawahnya seperti rumah panggung. Di depan pintunya terdapat sebuah teras kecil yang cukup bagi beberapa orang untuk berkumpul dan bersantai disana. Untuk memperkokoh struktur villa tersebut, di sudut kanan dan kiri dari teras tersebut juga telah diberikan sebuah tiang kayu yang menjulang dari lantai teras hingga atap villa tersebut. Ditengah teras tersebut, berdiri sebuah pintu kayu dengan desain sederhana. Jika dilihat dari villa tersebut, orang lain mungkin akan mengira bahwa pemiliknya adalah orang yang sederhana. Tetapi, Nathan dan Samuel mengenal pemiliknya dengan cukup dekat.
Di depan mereka, terlihat dua orang yang sama-sama berkemeja putih dengan jas dan dasi hitam sedang berdiri didepan pintu villa tersebut. Dari penampilannya, sepertinya mereka telah menunggu kedatangan Nathan dan Samuel. Melihat kedatangan Nathan dan Samuel, salah satu dari dua orang tersebut datang mendekati Nathan dan Samuel.
"Selamat malam Tuan Nathan, Tuan Ong telah menunggu anda di ballroom utama." Sapa orang tersebut sambil berjalan mendekati mereka.
“Selamat malam Niki. Ini malam yang indah bukan?” Balas Nathan.
“Tentu saja tuan. Malam yang indah untuk mengadakan sebuah pesta seperti ini.” Jawab orang yang dipanggil Niki tersebut.
“Kalau begitu, mari kita masuk ke dalam.” Lanjut Niki.
“Tentu saja. Silahkan pandu jalannya, Niki.”
“Baik, Tuan Nathan”
Niki berputar, lalu berjalan menuju sebuah pintu cukup besar yang berada di depan mereka. Dia lalu membuka pintu tersebut, dan kembali berputar menghadap Nathan dan Samuel.
“Silahkan masuk, tuan.”
“Terima kasih, Niki.” Jawab Nathan sambil berjalan menuju pintu yang telah dibuka oleh Niki.
“Kalau begitu, kami masuk dulu yah, Albert.” Nathan memutar kepalanya menghadap penjaga yang satu lagi.
“Tentu saja tuan. Selamat menikmati pestanya.” Balas laki-laki yang tadi dipanggil Albert itu.
Setelah Nathan dan Samuel melewati pintu tersebut, Niki menutup kembali pintunya dengan perlahan.
Krek....
