Tragedi Di Pesta Malam Hari Chapter 4
“Selamat malam semuanya. Selamat datang di pesta malam ini. Untuk membuka pesta ini, saya persilahkan Tuan Kevin Ong untuk maju dan memberikan salam pembuka.” Terdengar suara seorang perempuan dari pengeras suara yang terletak di setiap sudut ruangan.
“Omong-omong, Mengapa lantainya disusun secara bercelah pada setiap susunan kayunya?” Kata Nathan kepada Ong.
Tetapi, sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya, ia menyadari bahwa Ong sudah tidak ada didekatnya.
Tiba-tiba….
“Ahem... Selamat malam semuanya. Selamat datang di pesta malam ini.” Terdengar suara Ong dari pengeras suara.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menghentikan semua yang mereka lakukan pada saat itu dan langsung berbalik menghadap kearah dimana Ong berada.
“Hahaha... Seperti biasa, dia memang selalu seperti itu dari dahulu.Kalau melakukan sesuatu tidak pernah berbilang kapda orang lain.” Kata Nathan ketika mendengar suara Ong dari pengeras suara yang berada di sebelahnya.
“Selamat datang di pesta malam ini. Saya rasa pesta ini terlalu sederhana untuk pertemuan seperti ini. Tetapi, saya berharap semuanya tetap dapat menikmati pesta ini.” Lanjut Ong.
“Yah, saya rasa kita semua merasa bahwa kata sambutan yang panjang itu membosankan. Jadi, mungkin itu saya kata sambutan dari saya, Hahaha....” Kata Ong untuk menutup pidato sambutannya yang pendek itu dan berjalan ke tangga untuk turun dari panggung tempatnya berpidato tadi.
Setelah mendengarnya, semua orang disana bertepuk tangan untuk menghormatinya. Ada yang mendekatinya untuk menyapanya, ada yang berfoto dengannya, ada yang kembali ke pekerjaan yang mereka lakukan sebelumnya, ada juga yang langsung mengambil makanan yang telah disediakan.
Nathan berjalan menuju Ong untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong.
Tiba-tiba...
Blip.....
Terdengar suara sesuatu seperti saklar berbunyi.
Tak lama kemudian, ruangan yang mereka tempati langsung berubah menjadi gelap. Hampir semua orang yang berada di sana langsung menjadi panik.
“Semuanya... Tolong tenang. Jangan panik.” Terdengar sebuah suara berusaha menenangkan keramaian tersebut.
“Waduh…. Kok tiba-tiba mati lampu?” Muncul suara lain bertanya-tanya.
“Siapa yang mematikan lampunya!?” Suara lainnya terdengar
“Apakah sekringnya mati?” Muncul suara lain memberikan pendapatnya.
“Aduh,,, padahal aku sedang makan. Bagaimana ini.” Suara lainnya berkata.
“Tuan Ong? Sepertinya dapurnya mati lam...” Terdengar suara seseorang setengah berteriak.
“Oh... Ternyata disini juga mati lampu.” Lanjut suara tersebut.
“Omong-omong, Mengapa lantainya disusun secara bercelah pada setiap susunan kayunya?” Kata Nathan kepada Ong.
Tetapi, sebelum dia dapat menyelesaikan perkataannya, ia menyadari bahwa Ong sudah tidak ada didekatnya.
Tiba-tiba….
“Ahem... Selamat malam semuanya. Selamat datang di pesta malam ini.” Terdengar suara Ong dari pengeras suara.
Semua orang yang ada di ruangan tersebut langsung menghentikan semua yang mereka lakukan pada saat itu dan langsung berbalik menghadap kearah dimana Ong berada.
“Hahaha... Seperti biasa, dia memang selalu seperti itu dari dahulu.Kalau melakukan sesuatu tidak pernah berbilang kapda orang lain.” Kata Nathan ketika mendengar suara Ong dari pengeras suara yang berada di sebelahnya.
“Selamat datang di pesta malam ini. Saya rasa pesta ini terlalu sederhana untuk pertemuan seperti ini. Tetapi, saya berharap semuanya tetap dapat menikmati pesta ini.” Lanjut Ong.
“Yah, saya rasa kita semua merasa bahwa kata sambutan yang panjang itu membosankan. Jadi, mungkin itu saya kata sambutan dari saya, Hahaha....” Kata Ong untuk menutup pidato sambutannya yang pendek itu dan berjalan ke tangga untuk turun dari panggung tempatnya berpidato tadi.
Setelah mendengarnya, semua orang disana bertepuk tangan untuk menghormatinya. Ada yang mendekatinya untuk menyapanya, ada yang berfoto dengannya, ada yang kembali ke pekerjaan yang mereka lakukan sebelumnya, ada juga yang langsung mengambil makanan yang telah disediakan.
Nathan berjalan menuju Ong untuk melanjutkan pembicaraan mereka yang terpotong.
Tiba-tiba...
Blip.....
Terdengar suara sesuatu seperti saklar berbunyi.
Tak lama kemudian, ruangan yang mereka tempati langsung berubah menjadi gelap. Hampir semua orang yang berada di sana langsung menjadi panik.
“Semuanya... Tolong tenang. Jangan panik.” Terdengar sebuah suara berusaha menenangkan keramaian tersebut.
“Waduh…. Kok tiba-tiba mati lampu?” Muncul suara lain bertanya-tanya.
“Siapa yang mematikan lampunya!?” Suara lainnya terdengar
“Apakah sekringnya mati?” Muncul suara lain memberikan pendapatnya.
“Aduh,,, padahal aku sedang makan. Bagaimana ini.” Suara lainnya berkata.
“Tuan Ong? Sepertinya dapurnya mati lam...” Terdengar suara seseorang setengah berteriak.
“Oh... Ternyata disini juga mati lampu.” Lanjut suara tersebut.
Tak berselang lama, terdengar suara seseorang berlari dari luar ruangan. Tiba-tiba, terdengar suara seseorang mendorong pintu ruang pesta dengan paksa. Lalu, terdengar sebuah teriakan.
“Ada apa ini!?” Terdengar suara seseorang berteriak dari arah pintu ruang pesta.
“Suaranya terdengar seperti suara Albert.” Pikir Nathan.
“Albert, apakah itu kau?” Terdengar suara Ong bertanya ke kegelapan.
“Ya, tuan. Ini saya, Albert.” Jawab Albert.
“Jangan khawatir tuan, saya memakai kacamata malam. Saya akan amankan pesta ini sampai lampunya selesai diperbaiki oleh Ken.” Lanjutnya. Dari suaranya, terdengar seseorang sedang berlari di ruangan tersebut.
“Hmm... Apakah itu suara lari Albert? Atau orang lain?” Nathan berpikir. Pikirannya ia fokuskan untuk dapat mendengar semaksimal mungkin di dalam kegelapan tersebut.
“A-apa ini!?” Terdengar suara teriakan Albert dari kejauhan. Bersamaan dengan itu, suara lari yang tadi terdengar juga berhenti.
“Sepertinya memang suara Albert...” Gumam Nathan didalam hatinya.
“Tidak. Masalahnya sekarang bukan itu. Masalahnya, bagaimana cara mencegah kejadian yang dikatakan di dalam surat itu. dan juga, apa maksud teriakan Albert tadi? ” Lanjutnya.
“Tuan Ong!!! Ini dia!!! Saya menemukan...” Perkataan Albert tiba-tiba terhenti.
Crot....
Terdengar suara sesuatu ditembus oleh suatu benda. Bersamaan dengan itu, terdengar suara lain.
“Ugh... Ini...” Terdengar kembali suara Albert. Dari suaranya, dapat terdengar kalau ia sedang kesakitan.
“Aduh... Sial. Kita terjebak. Aku tidak mengira pelakunya akan melakukan hal sejauh ini.” Guman Nathan di dalam hatinya. Rasa sesalnya berkumpul di hatinya.
“Kau!!! Aku tak akan membiarkan kau mendekati siapapun!!!” Terdengar kembali teriakan Albert. Semakin lama semakin besar.
Mendengar semua hal itu, semua orang yang berada disana semakin kebingungan. Niki berlari kearah dimana ia terakhir kali melihat Ong, sedangkan Samuel mendekat ke Nathan untuk melindunginya. Semua orang yang berada disana berusaha sebaik mungkin untuk mempertahankan dirinya. Hingga, suasana menjadi tenang. Semua orang menjadi bingung, tak terkecuali Nathan.
“Ada apa ini? Bagaimana kondisi disana? Apakah Albert menang?” Banyak pertanyaan muncul di benak Nathan pada saat itu.
Tiba-tiba...
Bip...,
Suara saklar yang sama dengan yang terdengar sebelum lampu mati terdengar kembali. Tak berselang lama, semua lampu di ruangan tersebut menyala kembali. Semua orang yang berada di ruangan itu menjadi tenang. Mereka semua berusaha menenangkan diri mereka masing-masing setelah mengalami kejadian tersebut.
“Syukurlah...” Kata Ong memecah kesunyian.
“Ya... Untung tidak ada apapun yang terjadi.” Lanjut Niki yang terlihat sedang berdiri di sebelah Ong.
Setelah itu, ruangan kembali sunyi. Semua orang disana masih belum percaya mereka dapat kembali melihat cahaya pada malam itu.
Hingga....
“Oh iya, Albert dimana?” Suara Nathan memecah kesunyian.
“Albert.” Ong.memanggil Albert.
Tidak ada jawaban.
“ALBERT!!!” Ong kembali memanggil Albert. Kali ini, ia berteriak dengan keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Semua orang disana menjadi tegang. Dimana Albert? Apa yang terjadi kepadanya? Apa maksud perkataannya tadi? Semuanya bertanya-tanya didalam benak mereka.
“ALBERT!!! TOLONG KESINI!!!” Teriak Ong sekali lagi. Ia berharap salah satu pelayan kesayangannya tidak mengalami bahaya apapun.
Tetapi, tidak ada suara apapun di dalam ruangan tersebut. Tak ada jawaban, tak ada rintihan, tak ada suara. Semua sunyi.
Hingga, terdengar suara seseorang berlari.
tap...tap...tap...
“Albert!? Kemana saja ka...” Ong ingin berkata. Tetapi, kata kata yang ingin dia ucapkan terhenti di dalam mulutnya ketika muncul sebuah sosok pria dari balik pintu ruangan pesta tersebut.
“Apakah semuanya baik-baik saja?” Pria itu berbicara.
“Oh. Ken! Apakah kau melihat Albert?” Tanya Ong kepada Ken.
“Tidak, tuan. Saya baru saja selesai menyalakan kembali listrik di villa ini. Memangnya Albert kemana?” Tanya Ken setelah mendengar pertanyaan dari Ong.
“Tadi sepertinya dia menangkap pelakunya. Tetapi setelah lampunya menyala kembali, dia menghilang.” Jawab Ong.
“Oh, Gawat! Kita harus cepat mencarinya!” Balas Ken setelah mendengar penjelasan Ong.
Setelah itu, mereka membagi tugas untuk mencari Albert. Ong dan Niki pergi ke ruang penjaga yang terletak di ujung lorong yang berada di depan ruang pesta tersebut, Nathan dan Samuel pergi ke dapur yang terletak disebelah ruang pesta, sedangkan Ken ke gudang yang terletak dibelakang dapur.
“Oke kalau begitu. Mari kita mulai pencariannya.” Kata Ong.
