Syukur dan Ibadah
Suatu hari, aku pernah melakukan curahan hati kepada Ibu guru saya di sekolah. Perihal itu mengenai kehidupanku yang hancur akibat perpecahan internal keluarga alias Broken Home, dan keluhan lainnya.
Berikut adalah rekam dialognya.
Aku: "Bu, saya mengalami penderitaan yang luar biasa, yang mana itu sudah tidak dapat saya tahan lagi. Apa yang harus saya lakukan, Bu?"
Ibu Guru: "Itu tandanya kamu kurang beribadah, kurang bersyukur dengan keadaan, kalau manusia masih punya iman dia pasti bisa menjalani hidupnya dengan sebaik mungkin." Kata Ibu Guru sembari dia tersenyum.
Melegakan hasrat dan diriku yang meletup-letup akibat luapan emosi dari kehidupan bermasyarakat dan berkeluargaku. Kemudian karena dia aku menjadi lebih bersyukur dalam menjalani hidup, meskipun cacian makian makin merajalela.
"EH...!!!"
"TIDAK BISA BEGITU MUDAH, YA!!!"
Mungkin kalian tidak tahu dan tidak mengenal diriku, diriku ini memang seperti bajingan dan preman, namun aku masih melakukan sholat lima waktu tanpa absen barang sedetikpun. Juga aku tidak melakukan tindak kriminal seperti menggertak atau memalaki seseorang, aku hanyalah seorang biasa yang tampil seperti bajingan.
Dan anda mengatakan aku kurang bersyukur, juga? Apakah anda yang berada di posisiku dengan keluarga hancur, selalu dicaci-maki, miskin, bodoh dan digertak teman-temanku harus bersyukur? Bersyukur terhadap apa? Terhadap ujian yang tengah kuhadapi? Pada Tuhan karena memberikan ujian yang sangat berat yang mana merupakan motivasi agar hidup jadi lebih baik?!
Dan dengan itu anda bilang aku masih kurang bersyukur?!
MATI SAJA SANA!!!
Semenjak hari itu, aku tidak pernah melakukan curahan hatiku kepada siapapun lagi. Sampai detik ini, aku hanya bisa berharap dan yakin kepada diri sendiri bahwa akan indah pada waktunya.
