Tragedi Di Pesta Malam Hari Chapter 5

“Baiklah.” Semuanya menjawab setuju terhadap aba aba dari Ong, lalu berpencar menuju tempat yang sudah disepakati.

Ketika sampai di dapur, mereka bertemu dengan sang juru masak yang bertanggung jawab menyiapkan makanan mereka.



“Selamat datang, tuan. Nama saya Bobi, saya juru masak disini. Kalau saya boleh tahu, apakah anda memerlukan sesuatu sehingga datang kesini?” Sapa sang juru masak dengan sopan.

“Oh iya, tentu saja. Boleh saya panggil kamu Bobi?” Jawab Nathan.

“Tentu saja tuan. Merupakan suatu kehormatan bagi saya untuk dapat berbicara dengan seseorang seperti tuan.” Jawab Bobi.

“Oke kalau begitu, Bobi. Saya ingin menyelidiki tempat ini sedikit,” kata Nathan masih memasang senyumnya itu.

“Tentu saja, tuan. Saya akan memandu anda jika perlu.”

Maka, Nathan mulai berkeliling dapur tersebut mencari semua petunjuk yang dapat dia temukan. Dari atas meja dapur, dia menemukan beberapa piring yang masing-masing berisi berbagai jenis masakan. Daging panggang, steak, berbagai jenis sayur, hingga Daging sapi besar yang sudah dimasak. Ditengah daging itu terdapat tulang besar yang menembusnya.

“Wah... besar sekali dagingnya. dan juga ada tulangnya yang menusuknya. Ini asli?” Tanya Nathan dengan ekspresi kagum.

“Betul sekali tuan. Ini daging sapi impor yang saya olah sepenuh hati saya. dan juga, tentu saja. Tulang yang menembus daging ini juga asli.” Jawab Bobi.

Dia lalu berjalan kearah kanan dari tempat makanan tersebut.

“Hmm... Ini kompor listrik ya?” Tanya Nathan.

“Betul sekali tuan.” Bobi kembali menjawab.

“Oh. Ternyata ada kertas data peralatan dapur ya. Kalau begini akan lebih mudah jadinya.” Kata Nathan ketika ia menemukan sebuah kertas tertempel disebelah kanan kompor tersebut.

“Betul sekali tuan. Silahkan melihat-lihat peralatan yang ada disini.”

“Kompornya ada dua? Kompor yang lain kemana?” Tanya Nathan sambil membaca isi kertas tersebut.

“Sayang sekali, kompor yang lain hanya dapat berfungsi dengan baterai. Jadi, tidak dapat dipakai.” Jawab Bobi.

Mendengar jawaban itu, Nathan melanjutkan inspeksinya.

“Hmm.... Aneh.”

“Bobi, jumlah tusukan panggangan yang tercantum di kertas data peralatan masak tidak sesuai dengan yang ada disini. Dan juga saya ingat-ingat, masakan panggangan juga belum dikeluarkan dari dapur, benar?” Tanya Nathan sambil melihat isi kertas yang dia pegang.

“Betul tuan. Mohon maaf, saat saya datang kesini memang sudah ada peralatan yang hilang. Saya ingin bertanya kepada tuan Ong tetapi karena dia terlihat sibuk, saya tidak melakukannya karena saya takut akan mengganggu.” Jawab Bobi.

“Hahaha... Dasar orang itu.” Balas Nathan ketika mendengar jawaban Bobi.

“Hmm... Baiklah. Terima kasih sudah membantu. Maaf jika mengganggu.” Pamit Nathan.

“Tentu saja tuan. Membantu tuan adalah sebuah kehormatan bagi saya. Saya akan selalu senang dapat membantu.” Jawab Bobi.

Setelah itu, Nathan dan Samuel keluar dari dapur dan berjalan kembali ke ruang pesta. Disana, mereka dikejutkan dengan adanya kerumunan orang orang di salah satu sudut ruangan tersebut. Melihatnya, Nathan dan Samuel berlari kearah kerumunan tersebut. Terlihat Ong, Niki, dan Ken sudah berkumpul di tempat tersebut.

“Hei. Bagaimana pencarian...” Perkataan Nathan terputus ketika ia melihat wajah mereka.

Ong sedih, Niki menangis, dan Ken ketakutan. Itulah yang tergambar di wajah mereka. Nathan bergegas melihat apa yang terjadi. Ternyata, jasad Albert ditemukan tengkurap tak bernyawa di bawah salah satu meja pesta tersebut. Darahnya berlumuran di bagian dalam kain putih yang dipakai untuk melapisi meja tersebut.

“Tsk. Kita telat.” Sesal Nathan.

“Niki! Cepat! Jaga pintu masuk villa ini! Bila ada yang berusaha keluar atau masuk, langsung tangkap. Gunakan kekerasan bila perlu.” Teriak Nathan ketika ia menyadari situasi yang terjadi sekarang.

Mendengarnya, Niki langsung mengagguk dan berlari keluar dari ruangan tersebut.

“Bagaimana ia ditemukan?” Tanya Nathan kepada yang lain.

“Agustin mencium bau tak sedap dari sini. Sehingga, kami mencari kesini. Ketika kami membukanya, kami menemukan jasad Albert sudah tengkurap tak benyawa.” Jawab salah satu laki-laki yang ada disana.
“Oh... Terima kasih Yoshe.” Kata Nathan setelah mendengar penjelasan dari pria tersebut.

“Tak apa, Nathan.” Jawab laki-laki yang dipanggil Yoshe itu.

“Ong, bolehkah aku meneliti TKP?” Tanya Nathan kepada Ong untuk meminta izinnya.

“Tentu saja. Aku juga ingin meminta bantuan dari detektif terhebat di kerajaan ini.” Jawab Ong menahan kesedihannya.

“TOLONG TEMUKAN ORANG YANG TELAH MELAKUKAN INI!!!”  Kata Ong dengan tegas. Ekspresinya berubah menjadi marah.

“Tentu saja. Itu sudah menjadi pekerjaanku sebagai seorang detektif.” Jawab Nathan.

Mendengar persetujuan Ong, Nathan memulai pencariannya.

“Hmm... Seperti ia ditusuk dibeberapa bagian tubuh. Agustin, boleh kau melakukan otopsi jasad ini?” Kata Nathan sambil mengelilingi meja tersebut.

“Tentu saja.” Jawab perempuan yang dipanggil Agustin.

“Oh? Ada pisau di sebelah Albert. Sepertinya ditempeli selotip oleh seseorang. Mungkin sebelumnya ditempel dibawah meja ini. Pelaku yang pintar.” Gumam Nathan.

“Kalau begitu, aku akan pergi mengecek hal lainnya.” Kata Nathan kepada Ong.

“Yoshe, apakah kau bisa mengidentifikasi suara siapa saja yang terdengar saat mati lampu?” Tanya Nathan kepada Yoshe sambil berjalan mendekatinya.

“Tentu saja. Kamu pikir siapa aku ini?” Jawab Yoshe dengan penuh percaya diri.

“ ‘Semuanya... Tolong tenang. Jangan panik.’ Itu suara Ong.” Yoshe memulai penjelasannya.

“ ‘Waduh... Kok tiba-tiba mati lampu?’ Itu suara ku.” Lanjutnya.

“ ‘Siapa yang mematikan lampunya!?’Itu suara Amel, pelayan villa ini.”

“ ‘Apakah sekringnya mati?’ Itu suara Niki”

“ ‘Aduh,,, padahal aku sedang makan. Bagaimana ini?’ Itu suara Agustin sedang makan, hahaha.” Katanya sedikit bercanda.

“ ‘Tuan Ong? Sepertinya dapurnya mati lam...’ dan ‘Oh... Ternyata disini juga mati lampu.’ Adalah suara Bobi.”

“Begitu.” Tutup Yoshe dengan bangga.

“Wah... terima kasih yah.” Kata Nathan kepada Yoshe.

“Tak masalah. Sekarang, kerjakan pekerjaanmu, hahaha.” Balas Yoshe masih dengan nada bercanda.

“Tentu saja.” Kata Nathan sambil berjalan meninggalkannya.

“Ong, Ken, Bagaimana hasil pencarian kalian tadi?” Tanya Nathan sambil mendekat ke arah mereka.

“Sekring villa ini terlalu tinggi untuk di raih. Aku rasa pelakunya menggunakan cara lain untuk mematikan listriknya.” Jawab Ong.

“Bahkan dengan tangga?” Tanya Nathan memastikan.

“Ya.” Ong menjawab dengan yakin.

“Wah... Susah deh.”

“Bagaimana denganmu Ken?” Nathan bertanya kepada Ken.

“Tadi saya menemukan kain yang penuh darah. Pada saat itu saya mengira itu saus atau suatu hal lain. Oleh karena itu, saya mengabaikannya.” Jawab Ken.

“Oh ya, Tuan Ong. di gudang ada lantai yang bolong. Mungkin perlu diperbaiki.” Lanjutnya

“Mungkin karena beban diatasnya terlalu berat. Akan kupanggil orang untuk memperbaikinya nanti.” Jawab Ong.