Tragedi Di Pesta Malam Hari Chapter 6 - END

“Nathan. Otopsinya sudah selesai. Sepertinya, Albert ditusuk beberapa kali oleh sebuah benda tipis dan kecil dengan ukuran kurang dari 1 sentimeter.” Agustin berkata kepada Nathan sambil berjalan mendekatinya.

“Oke kalau begitu. Niki, Samuel, tolong kumpulkan semua orang yang ada disini. Jika mereka melawan, gunakan kekerasan.” Kata Nathan kepada mereka.

“Baik!” Mereka menjawab dan langsung berjalan keluar dari ruangan tersebut.

Tak lama kemudian, semua orang berkumpul di ruangan pesta tersebut.

“Oke. Saya mengumpulkan kalian disini karena kita akan mengungkap pelaku pembunuhan malam ini.” Kata Nathan kepada semuanya.
Mendengarnya, semua orang ditempat itu kaget.

“Oke. Saya akan menjelaskan petunjuk petunjuk yang ada disini yang berdampak terhadap hasil penyelidikan ini.” Kata Nathan.

“Pertama, bagaimana lampunya mati? Mudah. Pelakunya memasang timer pada AC yang terdapat disini dan di ruang penjaga. Sehingga, sekring listrik pada villa ini terputus.”

“Kedua. bagaimana pelakunya dapat bergerak di dalam kegelapan? Dia pasti menggunakan sesuatu untuk bergerak didalam kegelapan.”

“Ketiga, bagaimana Albert terbunuh? Dengan pisau yang berada disebelahnya? Bukan. Dari hasil otopsi, Albert terbunuh karena tusukan benda kecil. Sehingga  tidak mungkin pisau yang besar itu dapat membuat luka kecil.”

“Dari ketiga hal ini, dapat kita simpulkan bahwa pelakunya adalah kalian! Amel dan Bobi!”

Semua orang terkejut. Bagaimana bisa?

“Bukan satu orang, tetapi dua?” Ong adalah orang pertama yang menyatakan keterkejutannya.

“Betul” Jawab Nathan.

“Tunggu dulu! Sebelum masalah dua orang pelaku, bagaimana kami bisa bersalah pada awalnya. Saya tidak melakukan apapun.” Kata Amel sedikit berteriak.

“Tenanglah. Kedua pertanyaan itu akan saya jawab.” Kata Nathan dengan percaya diri.

“Pertama. Siapa saja orang yang dapat memasang timer pada AC yang terdapat didalam villa ini? Tentu saja seseorang yang berada di villa ini sebelum orang lain sampai disini. Dengan kata lain, Niki, Bobi, Amel, dan Albert.” Jelas Nathan.

“Kedua. Pelaku dapat bergerak di dalam kegelapan karena mata mereka sudah terlatih untuk melihat dalam kegelapan. Jadi, kita hanya perlu menemukan siapa yang dapat bergerak bebas saat mati lampu berlangsung. Karena Niki memegang Ong untuk melindunginya, tentu saja ia tidak akan dapat bergerak bebas. Sedangkan kalian, Amel dan Bobi dapat bergerak dengan bebas di dalam kegelapan tersebut.”

“Ketiga. Senjata yang digunakan. Tentu saja pada awalnya sang pembunuh ingin menggunakan pisau tersebut untuk melakukan pembunuhannya. dan targetnya jelas, Ong. Tetapi, karena Albert tiba-tiba masuk dan melihat si pelaku ingin mengambil pisau yang disembunyikannya, terjadi pertempuran kecil antara Albert dan si pelaku.”

“Albert berhasil memenangkan pertempuran tersebut. Tetapi, ketika ia ingin mengamankan pisau tersebut dan masuk ke bawah meja, teman pelaku menusuk Albert menggunakan sesuatu yang panjang, tipis, dan tajam. Apakah benda tersebut? Tusukan panggang yang ‘hilang’.”

“Apa!? Kan saya sudah memberi tahu tuan bahwa tusukan panggang tersebut sudah hilang.” Bobi memotong penjelasan Nathan.

“Tentu saja, dan saya juga masih ingat perkataanmu.” Balas Nathan mendengar protes Bobi.

“Kalau begitu, mengapa...” Sebelum Bobi selesai berkata, Nathan memotong perkataannya.

“Karena Ong tidak pernah menghilangkan apapun. Sebelum pestapun, ia berkata bahwa semua persiapan untuk pesta ini sudah di cek ulang, termasuk peralatan masak.” Jelas Nathan.

“Uh....” Bobi tertunduk lemas.

“Oke kalau begitu, mari kita lanjutkan.” Kata Nathan.

“Tusukan tersebut membuat Albert tidak sadarkan diri dan akhirnya meninggal karena kerusakan organ tubuh dan kekurangan darah.”

“Jadi, dapat disimpulkan bahwa pelakunya adalah Amel dan Bobi.” Tutup Nathan.

“Apakah Itu benar?” Ong bertanya kepada mereka.

“I-iya... betul...” Mereka berdua akhirnya mengakui perbuatan mereka.

“Kalau begitu, Niki, Samuel, bawa mereka ke kantor polisi.” Lanjut Ong.

“Baik!”

“Terima kasih atas bantuannya Nathan. Maaf sudah merepotkanmu.” Kata Ong kepada Nathan.

“Hahaha... tidak apa-apa. Senang bisa membantu.” Jawab Nathan.

“Kalau begitu, mari kita berdoa agar jiwa Albert diterima di sisi-Nya.” Lanjutnya.

“Amin” Semua orang berkata bersamaan.

Setelah itu, mereka menghabiskan seluruh makanan yang ada dan pulang ke rumah masing-masing.