Unknown Chat


20 Desember 2015

Leny: "Agil!"
Agil: "?"
Leny: "Sombong sekarang dirimu. Ya sudah, lah. Niat hanya mau menyapa."
Agil: "Maksudnya apa?"
Leny: "Ya sudah, lah. Anggap saja tidak pernah kenal."
Agil: "Tidak kenal mengapa menyapa? Sudah, lah maksudnya apa? Sampaikan saja."
Leny: "Oh begitu, ya sudah."
Agil: "Oke."
Leny: "Cukup tahu saja dengan kelakuanmu."
Agil: "Sama."

30 Desember 2015

Leny: "Selamat Natal dan Tahun Baru!"

Agil: "Belum tahun baru. Besok malam setelah jam 12 baru tahun baru."

31 Desember 2015

Leny: "Yaudah, sih! Mengapa jawabanmu dari kemarin seperti itu terus?"

Agil: "Jawabanku fakta, berdasarkan pikiran kritis, bukan hipotesa imajiner."
Leny: "Oh... kamu berubah menjadi makhluk astral."
Agil: "Tidak."
Leny: "Berubah."
Agil: "Tidak berubah."
Leny: "Kamu tidak seperti Agil yang kukenal selama ini!"
Agil: "Tuh, kamu masih mengetik kata astral, saja."
Leny: "Memangnya mengapa?"
Agil: "Manusia masih memiliki perasaan. Pikirkan sendiri."
Leny: "Oh, jadi kamu berubah. Aku minta maaf, Agil."
Agil: "Sama-sama."
Leny: "Tapi mengapa kamu baru mengatakan demikian? Aku selama ini mengejekmu dengan sebutan astral 'kan untuk bercanda saja."
Agil: "Sudah tidak mengapa. Aku capek."
Leny: "Oh, ya sudah."

30 Januari 2016

Leny: "Anda siapa?!"

Agil: "Lihat saja percakapan sebelumnya,"
Leny: "Saya merasa tidak pernah melakukan chatting dengan anda."
Agil: "Ampun... ini aku, sering kamu panggil astral saat kelakuanku tidak jelas."
Leny: "Oh, maksudmu aku ini tumben-tumbennya berkata formal? Aku minta maaf jika banyak kesalahan."
Leny: "Asal kamu tahu, semua orang bisa berubah. Jika memang kamu enggan dipanggil astral, mengapa kamu masih menyebutkan kata demikian? Dan asal kamu ketahui, bahwa di tahun 2016, aku berubah. Berubah bukan berarti aku yang ada di tahun 2015 tidak sopan. Tapi aku mengganggapmu sebagai teman untuk berbagi cerita. Tetapi aku salah menilaimu dan dirimu itu jauh lebih buruk dari musuh."
Agil: "INGAT!!! Teman merupakan musuh yang belum menyerang. Tidak perlu menilaiku karena nilaiku sudah pasti rendah."
Leny: "ORANG SEPERTI DIRIMU ITU TIDAK PANTAS DIANGGAP SEBAGAI TEMAN MAUPUN SEBAGAI MUSUH KARENA KAMU ITU LEBIH BEJAT DARI SEORANG MUSUH ITU SENDIRI!!! Bahkan seorang musuh saja masih mau menolong."
Agil: "HAH. Kebanyakan menonton drama klasik dan dramatik, dunia ini aslinya tidak memiliki musuh yang menolong."
Leny: "INI BUKAN DRAMATIKA! JIKA KAMU MENGGANGGAP SEMUA INI DRAMA, MAKA KAMU SALAH BESAR KARENA KAMU MERUPAKAN SALAH SATU ORANG TERBEJAT YANG PERNAH KUKENAL! Dan aku menyesal telah mengenalmu."
Agil: "Sayang takdir tidak bisa diubah dan waktu tidak bisa diulang. Kita sama-sama masuk ke kelas agama di sekolah yang sama yaitu ******."
Leny: "Dan itulah penyesalanku mengenalmu, MUSUH YANG PALING BEJAT!"
Agil: "Bejat dalam hal apa ini?"
Leny: "Aku bagaikan bunga dalam kekangan, terlalu lugu, terlalu polos berbagi kisah dengan seorang musuh."
Agil: "Wow! Saat ini pun kamu sedang berbagi kisah dengan musuh."
Leny: "Itulah bodohnya diriku, berbagi kisah dengan lugunya terhadap musuh yang paling BEJAT."
Agil: "Ya, sudah, lah."
Leny: "Selama ini kukira semua anak dalam kelas agama merupakan anak baik, dan bisa menjadi sahabatku. Tetapi kenyataannya berbeda dan orang yang kupercaya dan berbagi kisah denganku itu merupakan musuh terbejat! Kukiran kamu orang yang baik ternyata KAMU ADALAH MANUSIA PALING HINA DAN BEJAT YANG PERNAH KUKENAL!"
Agil: "Terlalu banyak basa-basi. Sekarang kutanya. Apakah aku pernah memerkosamu atau melakukan hak hina dina lainnya? Tidak, bukan? Memang sekarang aku bukan merupakan orang yang baik lagi karena aku sudah menganut ateisme atau agnostik."
Leny: "Kelakuan sama wajah beda jauh."
Agil: "Oh seperti itu. Kurang memuaskan."
Leny: "Terserah kata anda."
Agil: "Ya sudah, terima kasih sudah memberi kesempatan."
Leny: "Ooooooo."

16 April 2016

Anda tidak menjawab telepon dari Leny.

13 Juli 2016

Leny: "Hai."
Agil: "Hai~"

Percakapan ini terjadi ketika sedang dalam naungan kebodohan.